Welcomce to Zona d'Zizta. Enjoy!. Powered by Blogger.

Joinmy Facebook

RSS

Ex....ex.....exPerienCe

INI NYATA, BUKAN REKAYASA

Walo nungguin berjam-jam lamanya, ngga bakalan matahin semangat aku buat ketemu dan wawancara langsung bersama mereka. Kadang dijutekin sama si artis ato menejernya, ngga apa-apa, yang penting tugas lanzut terrrrrrrruss........ :D


Bersama The Chancuters @ Pangeran Hotel
Konser mereka yang ke 5 in Pekanbaru City



Sama Tantri dan Chua "Kotak" @ Ibis Hotel
Konser mereka yang ke 6 di Pekanbaru


Whit D'Masiv @ Arya Duta Hotel


Sama Matta Band @ Arya Duta Hotel
mereka manggung di Pekanbaru dalam acara yang ditaja
oleh Dinas Perhubungan Propinsi Riau


Sama Nugie, nihh...
do'i dateng ke Pekanbaru buat jadi juri dalam
acara pencarian bakat salah satu produk



Betewe aku uda bilang belum kalo aku cinta pekerjaan ini?
YES.............I Love this Job... Tunggu foto-foto berikutnya :)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Meraup Rupiah dengan Jangkrik

Hewan bernama jangkrik lebih banyak dikenal sebagai salah satu bahan pakan ternak seperti ayam atau untuk umpan pancingan. Namun, siapa sangka hewan yang termasuk ke dalam kelompok serangga ini disulap oleh seorang wanita tua menjadi berbagai jenis makanan dan obat-obatan yang bermanfaat bagi manusia dan dapat menjadi peluang usaha baru yang patut dilirik

Jangrik sebagai konsumsi mungkin tak pernah terfikirkan oleh masyarakat. Padahal Jangkrik yang ternyata memiliki kandungan protein tiga kali lipat dari kandungan daging ayam, sapi dan udang. Jangkrik juga mengandung protein omega 3, omega 6 dan omega 9 yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Selain itu, konsumsi jangkrik dipercaya dapat menambah stamina tubuh, menambah gairah seksual, serta mampu menunda menopause bagi wanita.

Berbeda halnya dengan Sri. Umur boleh tua, namun semangat wanita yang satu ini patut dibanggakan. Bermula ketika pensiun di tahun 1998, wanita yang bernama lengkap Sri Rahayu ini harus memutar otak bagaimana mensiasati penghasilan yang semakin berkurang namun kebutuhan semakin bertambah terlebih saat itu di Indonesia sedang mengalami krisis moneter. ‘’Saya harus tetap menyambung hidup, kalau pensiun itu penghasilan berkurang tapi kebutuhan tidak berkurang’’, ujarnya.


Berawal dari pemberian buku tentang cara beternak jangkrik oleh salah seorang rekannya, tahun 1998 silam dirinya tertarik membudidayakan jangkrik. Sri lantas membeli 300 ekor jangkrik betina dan 100 ekor jangkrik jantan. Harganya waktu itu Rp 25 per ekor. Selanjutnya ia pun diperkenalkan dengan salah seorang peternak jangkrik dan mengajaknya untuk mendirikan himpunan peternak jangkrik. ‘’Saya tidak mengira kalau di Pekanbaru juga ada masayrakat yang membudidayakan jangkrik. Saat itu ada pertemuan di sebuah hotel dan saya diperkenalkan dengan seorang peternak jangkrik tamatan Universitas Riau. Saya diajak bertemu dan diajak mendirikan himpunan peternak jangkrik dan saya pun dipercayakan untuk menjabat menjadi sekretaris’’, ceritanya panjang lebar.

Tak berakhir disana. Saat panen jangkrik tiba, Sri sendiri bingung mau diapakan jangkrik-jangkrik tersebut. Atas idenya, ia pun mengoreng jangkrik tersebut dan pada saat dicoba ternyata rasanya gurih seperti udang. ‘’Saya bagi-bagi goreng jangkrik tadi ke peternak yang saat itu sekitar 15 orang, tidak ada satupun yang mau. Ada satu orang yang penasaran lalu mencobanya dan ternyata enak, maka semuanya pun ikut mencoba dan mereka suka’’, ungkap Sri.

Berawal dari coba-coba inilah Sri mulai mengembangkan usahanya. Di tahun 2000 silam, ia pun mencoba membuat kapsul jangkrik. Kapsul tersebut dijual seharga Rp 100.000 per botol dengan isi 50 butir kasul. Beratnya 500 miligram. ‘’Karena jumlah jangkriknya banyak dan saya bingung mau diapakan, akhrirnya jangkrik itu saya tepungkan dan saya buat dalam bentuk kapsul. Dengan buatan inilah di Riau ini saya langsung dikenal dan dibawa ke Singapura untuk mengikuti seminar. Namun sayang, hingga 2008 produk ini tidak mendapat izin dari BPOM karena mereka tidak mengizinkan obat-obatan yang berasal dari hewan, yang boleh itu dari herbal. Karena manfaatnya sesuai penelitian bagus, saya menjual kapsul ini pada saat seminar atau dari mulut ke mulut’’, ujarnya Sri panjang lebar.

‘’Sampai saat ini semua izin produksi kapsul ini telah saya penuhi, baik izin propinsi Riau, pendaftran merk, semuanya sudah ada, namun izin edar dari badan POM saja yang belum’’, lanjutnya.

Di tahun 2008, anak tunggal kelahiran 69 tahun silam ini pun kembali melakukan kreasi dengan membuat peyek jangkrik. Tak disangka, peminatnya membeludak. Dalam sebulan, Sri bisa menghasilkan 15 kilo peyek yang dijual seharga Rp 60.000 per kilo. Setelah sukses dengan peyek jangkrik, Sri lantas berinovasi membuat rendang jangkrik. Lantas, muncul pula balado jangkrik yang harganya Rp 80.000 per kilo. Ada juga biskuit jangkrik yang dijual dengan harga Rp 60.000 per kilo. Produknya ini pun dijual diberbagai pusat perbelanjaan yang ada di Pekanbaru. Dari hasil jualan jangrik yang wilayah pasar utamanya masih sekitar Riau saja, wanita asal Madiun ini bisa mendapat penghasilan kurang lebih Rp 3 juta per bulannya. Padahal. Omzetnya masih kecil, kurang lebih tiga juta per bulan bahkan kurang. Tapi sekrang agak lumayan, karena ada sebuah salon yang mensuply kapsul jangkrik dengan saya’’, ujarnya.
Wanita tiga anak ini pun yakin bahwa bisnis yang ia jalankan ini merupakan bisnis tanpa saingin. ‘’Saya berani mengatakan bahwa olahan jangkrik ini satu-satunya di Indonesia’’, ujanrnya enteng.

Selain menjalani usaha ini bersama keluarga, ia pun dibina oleh beberapa dinas yang ada di Pekanbaru seperti Dinas Peternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dinas Koperasi. Lembaga-lembaga pemerintah inilah yang memberikan pengarahan kepada Sri serta membawa usahanya ini jika ada pameran baik yang diadakan di tingkat I maupun tingkat II. Dari kegiatan itulah Sri juga mempromosikan produk-produk buatannya dengan memberikan brosur atau kartu nama.

Lantaran unik, produk Sri sering dilirik oleh stasiun TV nasional, RRI, serta surat kabar, dan bahkan ia pernah mendapat kesempatan pameran ke luar negeri sebagai produk unggulan Provini Riau. Misalkan saja ke Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. ‘’Makanya mahasiswa sekarang harus pintar-pintar bahasa inggris. Saya tidak pandai bahasa Inggris, jadi saat bertemu dengan orang-orang asing di negara itu terpaksa saya panggil kawan yang mengerti bahasa inggris’’, kekehnya.

Mengenai tanggapan dari keluarga, Sri mengakui bahwa ia mendapat tanggapan positif dari suami dan anak-anaknya. ‘’Suami saya mendukung karena usahanya juga bagus, anak-anak pun mendukung, namun mereka belum tertarik untuk melanjutkan usaha ini’’, aku wanita tiga putra ini. Tanggapan positif dari tetangganya pun bermunculan. Namun, mereka tetap masih enggan untuk mengkonsumsi makanan dari olahan jangkrik ini. ‘’Tanggapan mereka positif, tapi untuk mencoba itu mereka masih geli, yang namanya geli itukan nggak bisa dipaksa’’.

Tak hanya menjual berbagai produk jangkriknya, Sri memiliki keingin untuk mencerdaskan masyarakat. ‘’Riau ini penduduknya lima puluh satu persen tidak tamat SD. Kalau sudah tidak tamat SD otomatis rakyatnya bodoh. Mungkin saja hal ini disebabkan oleh kemiskinan. Kalau orang-orang miskin tentu sangat jarang bisa mengkonsumsi ayam atau daging. Untuk menanggulangi hal itu, saya punya cita-cita bagaimana orang yang kurang beruntung itu bisa beternak jangkrik. Tidak usah banyak-banyak, cukup satu kotak saja. Oleh karena itu dengan adanya mengkonsumsi jangrik, generasi yang akan datang bisa lebih cerdas. Namun sayang, sampai hari ini orang masih geli memakan jangrik, walaupun sudah dinyatakan jangkrik itu halal’’, ungkap Sri.

Saat ditanyakan mengenai cita-cita, wanita yang menamatkan kuliahnya di Universitas Riau tahun 1984 ini menginginkan bagaimana hidup tidak miskin. ‘’Miskin itu tidak enak. Makanya orang-orang miskin tak ajak beternak jangkrik biar tidak miskin, biar anak-anak mereka pinter’’, ujar wanita ini dengan mendok Jawanya yang khas***






Aku & Nenek Sri

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mamah Dedeh in RHETORIC


Menurut sebuah portal yang saya baca, ditahun-tahun sebelum masehi retorika di hadapan publik pada mulanya hanya dilakukan oleh laki-laki. Aristoteles misalnya, filosof Yunani ini sangat menekankan pembelajaran retorika terhadap kaum laki-laki. Hal tersebut karena retorika lebih bersifat persuasif dan agresif sehingga dinilai lebih tepat dikerjakan oleh kaum laki-laki dan memang hanya diajarkan pada kaum laki-laki saja. Maklum pada zamannya, perempuan hampir tidak memiliki akses ke dunia luar selain lingkungan rumahnya sendiri. Perempuan dinilai tidak lebih dari keberadaannya secara biologis sebagai yang melahirkan anak dan merawat anak-anak serta rumah tangganya.

Namun, yang saya lihat sekarang malah semakin berjalannya waktu akses wanita untuk tampil di depan publikpun semakin terbuka lebar. Banyak para wanita yang menjadi pembicara-pembicara handal. Tak hanya itu, mereka juga dapat mempengaruhi pendengar dengan isi pembicaraan yang berkualitas dan memberi wawasan ilmu pengetahuan kepada khalayaknya. Hal tersebut dapat kita lihat baik di dunia hiburan, pendidikan, kesehatan, perpolotikkan, maupun di bidang keagamaan.

Nah, berbicara mengenai wanita yang jago beretorika di bidang agama, saya memiliki kisah menarik tentang hal ini. Ada salah sorang wanita yang membuat saya terkesan ketika pertama kali mendengar ceramahnya di salah satu stasiun televisi swasta. Siapa lagi kalau bukan Hj. Dedeh Rosidah Syarifudin. Wanita yang akrab dipanggil Mamah Dedeh ini semakin populer dengan semakin naiknya rating acara dakwah yang beliau bawakan.

Saya mengetahui acara ini pertama kali dari Ibu saya. Beliau yang rutin bangun subuh ini selalu menyaksikan acara televisi sebagai penemannya disaat memasak. Kebetulan pagi itu saya terbangun dan sulit untuk tidur lagi. Saya pun keluar kamar dan melihat Ibu sangat antusias menonton acara tersebut. Saya pun ikut nimbrung. Ibu mengatakan bahwa acara pengajian ini sangat bagus dan menghibur. Mendengar penjelasan Ibu, ternyata memang benar. Saya pun ikut larut menyaksikan Mamah Dedeh yang piawai membawakan ceramahnya. Berawal dari tidak sengaja itulah saya terbiasa bangun pagi dan tidak lupa menyaksikan acara tersebut (walau tidak rutin).

Semakin hari pengetahuan saya tentang agamapun semakin bertambah karena menyaksikan acara ceramah Mamah Dedeh di televisi. Tanda tanyapun menghampiri, sebenarnya siapa sih Mamah Dedeh ini? Rasa penasaran inilah yang membawa saya iseng-iseng searching di internet untuk mencari informasi tentang idola baru saya ini. Ternyata, sebelum terkenal sebagai ustadzah seperti sekarang, dulu Mamah Dedeh justru tertarik pada seni lukis. Padahal keluarganya rata-rata berprofesi sebagai da’i dan ustadz di pesantren. Mamah Dedeh memang dibesarkan di keluarga pesantren di Pasir Angin, Ciamis, Jawa Barat. Ayahnya yang dikenal sebagai ulama, kurang setuju dengan minat Mamah Dedeh pada seni lukis. Maka, semasa remaja ia diminta agar kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat (sekarang UIN Syarif Hidayatullah). Sejak menimba ilmu di perguruan tinggi inilah, Mamah Dedeh semakin intens terlibat dalam dunia dakwah. Setelah mengetahui sedikit informasi tentang beliau, saya tidak heran melihat kemampuannya berceramah di hadapan banyak orang karena selain ia menimba ilmu di universitas keagamaan, ia pun berasal dari keluarga pendakwah.

Jika dihubungkan dengan pelajaran retorika yang saya peroleh dari Ibu Chelsy Yesicha beberapa waktu yang lalu, saya ingin mengutip pernyataan dari Walter Fisher, yang menyatakan bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling). Karenanya, jika seseorang mampu bercerita, sesungguhnya ia punya potensi untuk berceramah. Saya melihat kemampuan ini dimilliki oleh seorang Mamah Dedeh. Dalam setiap penampilannya, ia selalu menyisipkan cerita-cerita menarik sehingga ceramah yang ia bawakan terasa ringan dan tidak membosankan.

Dakwah yang dibawakan oleh Mamah Dedeh juga dapat dihubungkan dengan materi atau isi pidato secara umum. (1) Akar, tunggang judul yang aktual (2) Batang, logika yang konsisten (3) Cabang/ranting, kerangka yang sistematis (4) Daun, analisa yang logis (5) Bunga, variasi, humor, pepatah, puisi (6) Buah, berkesimpulan. Keenam point diatas menurut saya terdapat dalam setiap ceramah yang dibawakan oleh Mamah Dedeh. Dakwah yang beliau sampaikan selalu berkaitan dengan masalah-masalah kehidupan yang sedang hangat saat ini, materi yang “berisi”, menggunakan dasar dan analisa yang kuat, disuguhi dengan humor yang pas, dan kesimpulan yang sangat membangun bagi pendengarnya.

Sama halnya jika dihubungkan dengan beberapa jenis pesan non verbal. Di antaranya Kinestetik (gerak tubuh) baik fasial, gestural, atau postural, Paralinguistik atau suara, dan Artifaktual atau pakaian dan kosmetik. Kesemua hal ini dimiliki oleh Mamah Dedeh. Dalam dakwahnya, beliau selalu menampilkan body language yang baik, intonasi, kejernihan, dan tinggi rendah suara yang seimbang, serta penampilan yang baik dan tidak terlalu nyentrik walau beliau membawakan dakwah tersebut di televisi nasional.


Begitu pula dengan tiga inti retorika yang dipaparkan oleh Aristoteles. Murid Plato ini memaparkan bahwa terdapat tiga bagian inti di dalam retorika, yaitu ethos, phatos, dan logos. Saya pun melihat ketiga bagian ini dalam ceramah yang dibawakan oleh Mamah Dedeh. Mari kita lihat satu per satu.

a. Ethos, yaitu karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara ia berkomunikasi.

Pembawaan Mamah Dedeh yang kadang bisa serius kadang bisa juga bercanda dapat membawa kesegaran pada pendengarnya. Suara lantang disertai humor kala berdakwah menjadi ciri khas yang sangat melekat pada Mamah Dedeh. Ustadah yang satu itu berhasil memadukan dakwah dan komedi. Selain itu, saya melihat Mamah Dedeh memiliki karakter yang kuat. Dengan suaranya yang lantang itu, plus suguhan homor yang pas, membuat para komunikan yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan terhipnotis untuk mendengarkan ceramah beliau. Tak jarang banyak sekali feed back yang diberikan oleh penonton baik dalam bertanya, tertawa bahkan menganggukkan kepala pertanda mereka mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Mamah Dedeh.

b. Phatos, yaitu perasaan emosional khalayak yang dapat dipahami dengan pendekatan “psikologi manusia”

Dengan suguhan materi yang up to date plus humor yang menarik membuat khalayak yang menyaksikan Mamah Dedeh sangat puas. Hal ini dapat terlihat dari semakin banyaknya penonton yang hadir disetiap acara dakwah yang dibawakan oleh beliau. Selain itu, saya melihat tidak ada kejenuhan dan kebosanan dari pendengarnya. Semuanya ikut hanyut dalam ceramah yang dibawakan oleh Mamah Dedeh padahal acara itu diadakan live diwaktu subuh (pukul 05.00). Begitu pula sewaktu acara ceramah edisi khusus Ramadhan yang juga saya saksikan pada bulan puasa lalu. Acaranya live sekitar pukul empat sore, yang mana sama-sama kita ketahui bahwa pada jam-jam seperti itu daya tahan tubuh semakin menurun. Namun, walaupun begitu khalayak sangat antusias menyaksikan ceramah beliau.

Jangankan khalayak yang menyaksikan Mamah Dedeh secara langsung. Saya saja sebagai penonton yang hanya melihatnya dari televisi juga ikut terhanyut dengan dakwah yang ia bawakan. Tanpa sadar, saya juga ikut menganggukkan kepala bahkan tertawa mendengar lelucon yang ia berikan. Kantuk pun menjadi hilang saat menyaksikan ceramah beliau. Bagi saya hal yang seperti ini sangat penting. Mungkin materi yang beliau bawakan cukup serius, namun karena dipolesi dengan humor-humor yang mendidik, para pendengarnya tidak merasa jenuh.

c. Logos, yaitu pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara.

Ceramah yang dibawakan oleh Mamah Dedeh memang beda dari ceramah yang diberikan oleh para ustadah pada umumnya. Apa lagi kalau bukan humor yang menghiasi setiap ceramahnya. Namun disamping itu semua, hal yang membuat saya kagum adalah untaian kata yang keluar dari mulutnya begitu enak didengar. Dalam menyampaikan materi, beliau tidak enggan menggunakan bahasa sehari-hari dan sangat kontekstual dengan keadaan sekarang, pengajian pun akan mudah dimengerti, terasa ringan, tapi mantap. Penjelasannya begitu runut dan dalam.

Begitu pula dalam menjawab pertanyaan dari pendengarnya. Ciri khas penceramah ulung ini adalah sebuah semboyan yang diucapkan oleh orang yang akan bertanya, “Mamah...Curhat dong...” dan Mamah Dedeh akan menjawab, “Iya dong...” Ia akan menjawab sesuai dengan kaidah-kaidah Islam dan selalu berpatokan kepada Al Qur'an dan Hadist yang semuanya sudah nempel di kepalanya. Kalimat-kalimat yang yang ia sampaikan sungguh lancar sehingga tidak terlihat kegugupan atau mikir-mikir dulu dalam menjawabnya. Untaian ayat-ayat Qur’an dan Hadist yang ia ucapkan sangat fasih seperti ia hafal ribuan ayat. Selain itu, karena para pendengarnya memang bisa curhat, jawaban yang diberikan oleh Mamah Dedeh tidak berkesan menggurui karena layaknya curhat dengan ibu sendiri. Ia selalu menggunakan kalimat yang jelas, singkat, dan efektif. Lagi-lagi ada nilai plus dimata saya terhadap ustazah ini.

Sekian penjelasan saya tentang tokoh Retorika yang saya kagumi. Mamah Dedeh dapat menjadi contoh bagi saya dalam berbicara dihadapan khalayak dan alhamdulillah ajaran-ajaran yang disampaikan olehnya dapat menambah ilmu di pagi hari bekal pengetahuan dan keimanan.

***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS