Welcomce to Zona d'Zizta. Enjoy!. Powered by Blogger.

Joinmy Facebook

RSS

Sang Pahlawan Di hari Pahlawan


by. Novia Faradila

Seuntai ucapan terima kasih atau megahnya sebuah tropi belum tentu cukup untuk menghargai jasa mereka. Rusdani (45) dan Oktofitria (29) meluangkan waktu mereka untuk memberikan bekal ilmu kepada anak-anak bangsa dengan segala kemampuan yang mereka miliki

Ruangan kecil dengan murid sekitar 30 orang tak membuat Rusdani patah arang. Wanita itu tak bosan-bosannya memberikan bekal ilmu agama kepada anak-anak yang berada di sekitar rumahnya. Sejak 2007 silam ia membuka tempat pengajian bagi anak-anak yang ingin menambah pengetahuan mereka tentang Islam. Semenjak  itu, setiap waktu luangnya  kecuali Jum’at, diberikannya untuk anak-anak tersebut.
Rusdani mengaku bahwa menularkan ilmu itu penting, biarpun ilmu itu sedikit, tetapi harus dibagi-bagi, ‘’biarpun sebaris ayat, ilmu itu harus diberikan. Dari pada anak-anak itu ke warnet, lebih baik mereka melakukan kegiatan yang bermanfaat, yakni belajar mengaji’’, ujarnya.
Berbagai pengetahuan tentang agama diajarkan Rusdani, seperti membaca iqra, membaca alquran, belajar sholat, belajar azan, menceritakan tentang sejarah Iislam, dan ilmu lain yang berhubungan dengan Islam. Ruangan yang kecil dengan murid yang banyak membuat Rusdani harus memutar otak untuk membagi jadwalnya. Dengan keterbatasan itu Rusdani memiliki harapan untuk membuat perpustakaan.
. ‘’Mudah-mudahan kami bertambah rezeki, insyaallah akan kami kembangkan lagi supaya anak-anak lebih leluasa dalam belajar. Dan saya ingin membuat perpustakaan mini agar anak-anak bertambah ilmunya tidak hanya melalui sekolah, tapi melalui membaca juga,’’ harap Rusdani.
 Satu lagi sosok pahlawan tanpa jasa masa kini, Oktafitria, rasa empati mendorongnya untuk mengabdi pada salah satu Sekolah Luar Biasa. Kekurangan tenaga pengajar di sekolah tersebut menjadi satu alasan baginya untuk mengajar. ‘’Sekolah ini bediri awal tahun 2007. Pada saat itu guru yang mengajar kurang, padahal anak-anak banyak, jadi saya coba masukkan lamaran dan saya diterima’’, terangnya.
Berkeluh kesah sedikit mengenai pekerjaannya, Fitria mengaku bahwa dalam menghadapi anak-anak itu dituntut kesabaran dan ketelatenan. ‘’yang susah ngajarnya itu anak-anak tuna rungu dan autis, kalau yang mudah diajar anak-anak tuna netra, karena mereka ini hanya matanya saja yang tidak bisa melihat, tapi kalau kemampuan berfikir, mereka juga sama dengan anak-anak normal lainnya,’’ paparnya.
‘’Kalau anak autis itu banyak macamnya, ada yang diam, ada yang hiperaktif. Dulu pernah ada anak autis, tapi tidak bertahan lama, mungkin karena orang tua mereka ingin cepat, padahal anak autis ini harus sabar mengajarnya, kalau ngga sabar orang tua dan guru agak lama prosese perubahan mereka,’’ imbuhnya.
Dengan kemampuan yang terbatas, Fitria melatih anak-anak wuna wicara untuk dapat mengeluarkan suarannya. Jijik tidak lagi dirasakannya ketika melihat air liurnya anak-anak muridnya, bahkan terkadang ia juga harus membersihkan kotoran meraka. Seperti itulah perjuangannya setiap hari dalam memberikan pengajaran.
 ‘’Mereka kami ajarkan cara menyisir rambut, berbedak, mandi, dan kalau mereka bisa melakukan hal itu berarti mereka telah sukses proses belajarnya. Proses belajar itu tidak hanya membaca, menulis, behitung, tapi juga bina diri. anak-anak yang lambat belajar kebanyakan mereka malas, kadang tidak datang seminggu, sebulan, atau bahkan satu tahun ada yang tidak datang.baru mereka hadir lagi. Kami tetap terima, karena mereka tidak bisa dipaksakan, istilah belajarnya bina diri’’, tuturnya.
Keterbatasan anak-anak itu tidak  menjadi masalah berarti di matanya ketika melihat keunikan mereka. Raut wajah  kasihan bercampur geli  terpancar ketika ia bercerita tentang keunikan anak-anak muridnya. Selain harus mendidik anak-anak, Fitria juga harus mampu menerima keterbatasan dari orang tua anak murid.
Uang sekolah hanya berjumlah Rp 80 ribu, namun masih banyak orang tua yang tidak membayar uang sekolah, bahkan ada yang dari awal tidak membayar. Itu semua tidak mematahkan semangatnya dalam mengajar. Dengan tulus hati, Fitria mengatakan ‘’Ya tidak apa-apalah, dari pada sekolah ini tidak ada murid, nanti tutup pula sekolah ini, jadi kami terima saja’’, tutur Fitira. Sebagai sekolah swasta perhatian pemerintah seperti beasiswa, dana BOS, menjadi harapan mereka untuk menghidupkan sekolah tersebut. 
Fitira berharap anak-anak muridnya bisa diterima di lingkungan mereka dan berjanji akan setia mengabdi di sekolah tersebut.  “Siapapun tidak ada yang menginginkan keadaan seperti ini. Saya sempat berfikir, andaikan saya ada di posisi mereka, atau saya memiliki anak-anak seperti mereka. Kalau saya pindah, nanti siapa lagi yang mengajarkan mereka’’, Oktafitria mengakhiri.
Pahlawan, yang sering dibangga-banggakan oleh masyarakat bukan hanya mereka yang mengangkat senjata, bukan juga mereka yang berkutat dengan peperangan, namun juga bagi mereka yang mencerdaskan anak-anak bangsa.***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment

marrii....mariii....

Leave a comment ya...