Welcomce to Zona d'Zizta. Enjoy!. Powered by Blogger.

Joinmy Facebook

RSS

Ilmu Pengetahuan dan Cara Bekerjanya

Ilmu Pengetahuan

Manusia sebenarnya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia itu dapat disimpulkan dari kemampuannya untuk berfikir, berkehendak, dan merasa. Dengan pikirannya manusia mendapatkan (ilmu) pengetahuan, dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya, dan dengan perasaannya dapat mencapai kesenangan.

Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi antara lain disebabkan oleh fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki rasa ingin tahu, mencari dan berpihak kepada kebenaran. Di samping itu, manusia juga memiliki sifat hanif (akal budi) yaitu keinginan tidak terbatas untuk menggapai yang terbaik dalam kehidupannya (Imam Suprayogo & Tobroni, 2003 : 3)

Segala tuntutan yang terdapat dalam diri manusia tersebut dapat terpenuhi apabila manusia memperoleh pengetahuan secara sistematis. Tapi, inilah kelebihan manusia. Kemampuan yang mereka miliki membuat mereka dapat memperoleh ilmu pengetahuan tersebut. Namun, apakah ilmu pengetahuan itu? Persoalan ini mungkin dapat diselesaikan dengan terlebih dahulu berusaha merumuskan apakah yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan (science).

Secara singkat ilmu pengetahuan adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat ditelaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya (Soerjono Soekanto, 2006 : 5).

Jadi berdasarkan pemaparan di atas, Soerjono Soekanto membagi ilmu pengetahuan ke dalam unsur-unsur pokok, yakni :
a. pengetahuan (knowledge);
b. tersusun secara sistematis;
c. menggunakan pemikiran;
d. dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum (objektif)

Menurut William F. Ogburn & Meyer F. Nimkoff (dalam Soejono Soekanto, 2006: 6) pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (beliefs), tahayul (superstitions), dan penerangan-penerangan yang keliru (misinformations).

Dalam hal ini saya akan mengambil contoh pada masyarakat Sasak yang ada di Pulau Lombok. Di sana terdapat upacara adat yang disebut Upacara Rebo. Upacara ini dimaksudkan untuk menolak bala (bencana/penyakit), dilaksanakan setiap tahun sekali tepat pada hari Rabu, minggu terakhir bulan Safar. Menurut kepercayaan masyarakat Sasak bahwa pada hari Rebo Bontong adalah merupakan puncak terjadi bala (bencana/penyakit), sehingga sampai sekarang masih dipercaya untuk memulai suatu pekerjaan tidak diawali pada hari Rebo Bontong. 

Contoh lain adalah adanya anggapan bahwa tidak boleh menggunting kuku pada malam hari, atau adanya anggapan bahwa orang berkepala besar memiliki tingkat kepandaian yang melebihi orang yang memiliki kepala berukuran normal (standar). Kepercayaan-kepercayaan tersebut yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya akan menimnbulkan ketidak pastian, sedangkan ilmu pengetahuan bertujuan untuk mendapatkan kepastian serta menghilangkan prasangka seebagai akibat dari ketidakpastian tersebut. 

Ilmu pengetahuan berbersifat tepat, metodis, akademis, logis, dan praktis. Kemudahan yang diberikan ilmu pengetahuan kepada kita berupa pemahaman yang jelas dan melihat segala sesuatu secara jeli, membuat kita merasa bahwa alat itu sangat nyata, sukar, dan pasti. Tujuan ilmu pengetahuan untuk lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan. Ilmu pengetahuan timbul karena adanya rasa ingin tahu dari manusia. Rasa ingin tahu tadi timbul karena banyaknya hal-hal yang masih “gelap’’ bagi manusia dan manusia ingin memperoleh “keterangan” dari “kegelapan” tersebut. 

Menutur Soerjono Soekanto (2006 : 9) ilmu pengetahuan berkembang pada taraf yang tinggi, apabila :
a. metode percobaan dan kesalahan;
b. mempelajari atau menggunakan efek dari metode pertama terhadap situasi yang biasa dihadapi;
c. persepsi dan infestigasi visual terhadap alternatif aksi potensial;
d. mempelajari dengan pengamatan, didasarkan pada pengamatan terhadap usaha dan hasil aksi pihak-pihak lain;
e. imitasi, pengamatan dan peniruan terhadap perilaku pihak-pihak lain;
f. instruksi verbal dan penerimaan informasi verbal dari pihak-pihak lain;
g. pemikiran dan konfrontasi simbolis dari perilaku potensi dengan model realitas yang diadopsi
h. pengambilan keputusan secara kolektif atas dasar pengamatan terhadap kenyataan yang dilakukan oleh orang banyak dalam kondisi-kondisi yang sama.

Menurut Sumadi Suryabrata (2009 : 3) Ada dua pendekatan yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, yaitu pendekatan ilmiah dan pendekatan non ilmiah 

a. Pendekatan ilmiah
Pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori tertentu. Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasarkan data empiris.

b. Pendekatan non ilmiah
Ada beberapa pendekata non ilmiah yang banyak digunakan yakni, akal sehat, prasangka, intuisi, penemuan kebetulan dan coba-coba, serta pendapat otoritas ilmiah dan pikiran kritis.

Selain itu, ada dua pandangan terhadap ilmu pengetahuan, yakni pandangan statis dan pandangan dinamis (Jhon Ziman dalam C.A Qadir, 1995 : 38). Pandangan statis terhadap ilmu pengetahuan menempatkan rangkaian prinsip, dalil, dan teori yang saling berkaitan itu bersamaan dengan sekali informasi yang teratur. Sedangkan pandangan dinamis terhadap ilmu pengetahuan menganggap ilmu pengetahuan sebagai kegiatan.

Berdasarkan ulasan di atas, mengapa manusia perlu menuntut ilmu? Ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan ini. Dengan ilmu pengetahuan manusia dapat membedakan baik dan buruknya suatu keadaan, dengan ilmu pengetahuan manusia bisa meramalkan apa yang akan terjadi dikemudian hari. Tentu saja, jika manusia dapat memanfaat ilmu pengetahuan mereka dengan baik, kehidupan mereka pun dapat mereka jalani dengan baik.

Cara Kerja Ilmu Pengetahuan
Manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan rasa ingin tahu tersebut, lantas mereka mencari dan memperoleh pengetahuan. Menurut Ahmat Tafsir (2005 : 16) terdapat tiga macam pengetahuan manusia, yakni pengetahuan sains (scientific knowledge), pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik.
Saya akan mencoba menguraikan tiga macam pengetahuan tersebut. Seseorang ingin mengetahui jika durian ditanam, apa buahnya. Ia lalu menanam biji durian. Ia dapat melihat buahnya ada durian. Jadi, tahulah ia bahwa durian berbuah durian. Pada dasarnya pengetahuan inilah yang disebut pengetahuan sains (scientific knowledge). Memang tidak sesederhana itu, namun pada dasarnya pengetahuan sains adalah pengetahuan logis yang didasari pada bukti empiris (nyata).

Lalu ada yang memikirkan bahwa durian selalu berbuah durian karena ada yang mengaturnya. Ketentuan itu memang tidak kelihatan, tidak empiris, tetapi akal mengatakan hukum itu ada. Ini disebut dengan pengetahuan filsafat. Kebenarannya hanya dipertangung jawabkan secara logis, tidak secara empiris.

Ada juga segelintir orang yang masih ingin tahu siapa Tuhan itu. Atau ingin melihat hal-hal gaib. Bagian ini tidak dapatlagi dijangkau dengan akal sehat. Bagian ini mungkinmasih bisa dijangkau dengan menggunakan rasa. Ahmad Tafsir (2005 : 17) menyebutnya sebagai pengetahuan mistik, yaitu sejenis pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tidak juga logis. Namun, untuk pengetahuan mistik ini, masih banyak para pakar tidak setuju memasukkannya ke dalam kategori pengetahuan karena tidak bisa diuji secara empiris dan logis, dan pengetahuan ini lebih bersifat subjektif.
Segala kegiatan manusia akan lebih mudah dilakukan apabila mereka memperoleh ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang yang mereka geluti. Berbagai bidang dalam kehidupan manusia tentu memiliki landasan pengetahuan yang bebeda. Baik dalam bidang agama, politik, seni, pertanian, peternakan, dan segala aspek yang menunjang kehidupan manusia. Kesemuanya memiliki bidang ilmu pengetahuan yang berbeda-beda.

Secara umum dan konvensional dikenal adanya empat kelompok ilmu pengetahuan, yaitu:
a. ilmu matematika
b. ilmu pengetahuan alam, yaitu kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam baik yang hayati (life sciences) maupun yang tidak hayati (fisika)
c. ilmu tentang perilaku (behavioral sciences) yang disatu pihak penyoroti perilaku hewan, dan di lain pihak menyoroti perilaku manusia, yang terakhir ini sering sekali dinamakan ilmu-ilmu sosial yang mencakup berbagai ilmu pengetahuan yang masing-masing menyoroti suatu bidang dalam kehidupan masyarakat.
d. Ilmu pengetahuan kerohanian, yang merupakan kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari perwujudan spiritual kehidupan bersama manusia.

Dengan adanya kelompok ilmu pengetahuan inilah manusia dapat menggunakan ilmu tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Tentu saja dengan cara kerja yang berbeda. Contohnya dalam ilmu alam, kedokteran misalnya. Seorang calon dokter jantung yang ingin meneliti tentang penyakit jantung tentu harus mengetahui lebih jauh tentang seluk beluk jantung manusia. Ia harus faham bagaimana meneliti jantung, bagaimana organ-organnya, apa saja alat-alat yang digunakan, dan tentu saja ada istilah-istilah khusus yang biasa digunakan dalam meneliti jantung yang harus dimengerti oleh calon dokter tersebut. Kesemua ini tentu dipelajari dengan menggunakan metode khusus yang berkaitan dengan pengetahuan tentang jantung.

Berbeda halnya dengan seorang mahasiswa jurnalistik yang ingin mengamati tentang Head Line sebuah koran lokal yang ada di kotanya. Jurnalistik tersmasuk ke dalam ilmu sosial. Nah, dalam hal ini tentu saja mahasiswa tersbebut menggunakan metode-metode yang sesuai dengan ilmu tersebut. Ia tentu harus sering mengamati head line surat kabar dalam beberapa hari. Ia harus mengetahui bagaimana bahasa jurnalistik yang baik dan benar, bagaiamana penulisan head line yang baik dalam sebuah surat kabar, mengetahui kode etik jurnalistik dengan baik, dan masih banyak lagi. Dari kedua bidang ilmu tersebut sudah dapat kita amati bahwa masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda.

Di saat manusia memiliki pengetahuan, mereka dapat merangsang pola pikir mereka menjadi lebih kreatif dan kritis, tentunya mereka dapat membuat pembaruan (inovasi) yang dapat membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik. Namun, perlu diingat, tidak semua pengetahuan merupakan ilmu. Hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan ilmu pengetahuan. Dengan adanya sistematika tersebut akan jelas tergambar garis besar ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

Daftar Pustaka
Qasirm C.A, Ilmu Pengetahuan dan Metodenya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 1995

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Pers, Jakrata : 2006

Suprayogo, Imam & Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, Remaja Rosdakarya. Bandung : 2003

Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Rajawali Pers, Jakarta : 2009 

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Akal & Hati Sejak Thalas sampai Capra Ed. Revisi, Remaja Rosda Karya, Bandung : 2005

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment

marrii....mariii....

Leave a comment ya...