Welcomce to Zona d'Zizta. Enjoy!. Powered by Blogger.

Joinmy Facebook

RSS

Ilmu Pengetahuan dan Cara Bekerjanya

Ilmu Pengetahuan

Manusia sebenarnya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai makhluk yang sadar. Kesadaran manusia itu dapat disimpulkan dari kemampuannya untuk berfikir, berkehendak, dan merasa. Dengan pikirannya manusia mendapatkan (ilmu) pengetahuan, dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya, dan dengan perasaannya dapat mencapai kesenangan.

Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi antara lain disebabkan oleh fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki rasa ingin tahu, mencari dan berpihak kepada kebenaran. Di samping itu, manusia juga memiliki sifat hanif (akal budi) yaitu keinginan tidak terbatas untuk menggapai yang terbaik dalam kehidupannya (Imam Suprayogo & Tobroni, 2003 : 3)

Segala tuntutan yang terdapat dalam diri manusia tersebut dapat terpenuhi apabila manusia memperoleh pengetahuan secara sistematis. Tapi, inilah kelebihan manusia. Kemampuan yang mereka miliki membuat mereka dapat memperoleh ilmu pengetahuan tersebut. Namun, apakah ilmu pengetahuan itu? Persoalan ini mungkin dapat diselesaikan dengan terlebih dahulu berusaha merumuskan apakah yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan (science).

Secara singkat ilmu pengetahuan adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat ditelaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya (Soerjono Soekanto, 2006 : 5).

Jadi berdasarkan pemaparan di atas, Soerjono Soekanto membagi ilmu pengetahuan ke dalam unsur-unsur pokok, yakni :
a. pengetahuan (knowledge);
b. tersusun secara sistematis;
c. menggunakan pemikiran;
d. dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum (objektif)

Menurut William F. Ogburn & Meyer F. Nimkoff (dalam Soejono Soekanto, 2006: 6) pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (beliefs), tahayul (superstitions), dan penerangan-penerangan yang keliru (misinformations).

Dalam hal ini saya akan mengambil contoh pada masyarakat Sasak yang ada di Pulau Lombok. Di sana terdapat upacara adat yang disebut Upacara Rebo. Upacara ini dimaksudkan untuk menolak bala (bencana/penyakit), dilaksanakan setiap tahun sekali tepat pada hari Rabu, minggu terakhir bulan Safar. Menurut kepercayaan masyarakat Sasak bahwa pada hari Rebo Bontong adalah merupakan puncak terjadi bala (bencana/penyakit), sehingga sampai sekarang masih dipercaya untuk memulai suatu pekerjaan tidak diawali pada hari Rebo Bontong. 

Contoh lain adalah adanya anggapan bahwa tidak boleh menggunting kuku pada malam hari, atau adanya anggapan bahwa orang berkepala besar memiliki tingkat kepandaian yang melebihi orang yang memiliki kepala berukuran normal (standar). Kepercayaan-kepercayaan tersebut yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya akan menimnbulkan ketidak pastian, sedangkan ilmu pengetahuan bertujuan untuk mendapatkan kepastian serta menghilangkan prasangka seebagai akibat dari ketidakpastian tersebut. 

Ilmu pengetahuan berbersifat tepat, metodis, akademis, logis, dan praktis. Kemudahan yang diberikan ilmu pengetahuan kepada kita berupa pemahaman yang jelas dan melihat segala sesuatu secara jeli, membuat kita merasa bahwa alat itu sangat nyata, sukar, dan pasti. Tujuan ilmu pengetahuan untuk lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan. Ilmu pengetahuan timbul karena adanya rasa ingin tahu dari manusia. Rasa ingin tahu tadi timbul karena banyaknya hal-hal yang masih “gelap’’ bagi manusia dan manusia ingin memperoleh “keterangan” dari “kegelapan” tersebut. 

Menutur Soerjono Soekanto (2006 : 9) ilmu pengetahuan berkembang pada taraf yang tinggi, apabila :
a. metode percobaan dan kesalahan;
b. mempelajari atau menggunakan efek dari metode pertama terhadap situasi yang biasa dihadapi;
c. persepsi dan infestigasi visual terhadap alternatif aksi potensial;
d. mempelajari dengan pengamatan, didasarkan pada pengamatan terhadap usaha dan hasil aksi pihak-pihak lain;
e. imitasi, pengamatan dan peniruan terhadap perilaku pihak-pihak lain;
f. instruksi verbal dan penerimaan informasi verbal dari pihak-pihak lain;
g. pemikiran dan konfrontasi simbolis dari perilaku potensi dengan model realitas yang diadopsi
h. pengambilan keputusan secara kolektif atas dasar pengamatan terhadap kenyataan yang dilakukan oleh orang banyak dalam kondisi-kondisi yang sama.

Menurut Sumadi Suryabrata (2009 : 3) Ada dua pendekatan yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, yaitu pendekatan ilmiah dan pendekatan non ilmiah 

a. Pendekatan ilmiah
Pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori tertentu. Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasarkan data empiris.

b. Pendekatan non ilmiah
Ada beberapa pendekata non ilmiah yang banyak digunakan yakni, akal sehat, prasangka, intuisi, penemuan kebetulan dan coba-coba, serta pendapat otoritas ilmiah dan pikiran kritis.

Selain itu, ada dua pandangan terhadap ilmu pengetahuan, yakni pandangan statis dan pandangan dinamis (Jhon Ziman dalam C.A Qadir, 1995 : 38). Pandangan statis terhadap ilmu pengetahuan menempatkan rangkaian prinsip, dalil, dan teori yang saling berkaitan itu bersamaan dengan sekali informasi yang teratur. Sedangkan pandangan dinamis terhadap ilmu pengetahuan menganggap ilmu pengetahuan sebagai kegiatan.

Berdasarkan ulasan di atas, mengapa manusia perlu menuntut ilmu? Ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan ini. Dengan ilmu pengetahuan manusia dapat membedakan baik dan buruknya suatu keadaan, dengan ilmu pengetahuan manusia bisa meramalkan apa yang akan terjadi dikemudian hari. Tentu saja, jika manusia dapat memanfaat ilmu pengetahuan mereka dengan baik, kehidupan mereka pun dapat mereka jalani dengan baik.

Cara Kerja Ilmu Pengetahuan
Manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan rasa ingin tahu tersebut, lantas mereka mencari dan memperoleh pengetahuan. Menurut Ahmat Tafsir (2005 : 16) terdapat tiga macam pengetahuan manusia, yakni pengetahuan sains (scientific knowledge), pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik.
Saya akan mencoba menguraikan tiga macam pengetahuan tersebut. Seseorang ingin mengetahui jika durian ditanam, apa buahnya. Ia lalu menanam biji durian. Ia dapat melihat buahnya ada durian. Jadi, tahulah ia bahwa durian berbuah durian. Pada dasarnya pengetahuan inilah yang disebut pengetahuan sains (scientific knowledge). Memang tidak sesederhana itu, namun pada dasarnya pengetahuan sains adalah pengetahuan logis yang didasari pada bukti empiris (nyata).

Lalu ada yang memikirkan bahwa durian selalu berbuah durian karena ada yang mengaturnya. Ketentuan itu memang tidak kelihatan, tidak empiris, tetapi akal mengatakan hukum itu ada. Ini disebut dengan pengetahuan filsafat. Kebenarannya hanya dipertangung jawabkan secara logis, tidak secara empiris.

Ada juga segelintir orang yang masih ingin tahu siapa Tuhan itu. Atau ingin melihat hal-hal gaib. Bagian ini tidak dapatlagi dijangkau dengan akal sehat. Bagian ini mungkinmasih bisa dijangkau dengan menggunakan rasa. Ahmad Tafsir (2005 : 17) menyebutnya sebagai pengetahuan mistik, yaitu sejenis pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tidak juga logis. Namun, untuk pengetahuan mistik ini, masih banyak para pakar tidak setuju memasukkannya ke dalam kategori pengetahuan karena tidak bisa diuji secara empiris dan logis, dan pengetahuan ini lebih bersifat subjektif.
Segala kegiatan manusia akan lebih mudah dilakukan apabila mereka memperoleh ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang yang mereka geluti. Berbagai bidang dalam kehidupan manusia tentu memiliki landasan pengetahuan yang bebeda. Baik dalam bidang agama, politik, seni, pertanian, peternakan, dan segala aspek yang menunjang kehidupan manusia. Kesemuanya memiliki bidang ilmu pengetahuan yang berbeda-beda.

Secara umum dan konvensional dikenal adanya empat kelompok ilmu pengetahuan, yaitu:
a. ilmu matematika
b. ilmu pengetahuan alam, yaitu kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam baik yang hayati (life sciences) maupun yang tidak hayati (fisika)
c. ilmu tentang perilaku (behavioral sciences) yang disatu pihak penyoroti perilaku hewan, dan di lain pihak menyoroti perilaku manusia, yang terakhir ini sering sekali dinamakan ilmu-ilmu sosial yang mencakup berbagai ilmu pengetahuan yang masing-masing menyoroti suatu bidang dalam kehidupan masyarakat.
d. Ilmu pengetahuan kerohanian, yang merupakan kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari perwujudan spiritual kehidupan bersama manusia.

Dengan adanya kelompok ilmu pengetahuan inilah manusia dapat menggunakan ilmu tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Tentu saja dengan cara kerja yang berbeda. Contohnya dalam ilmu alam, kedokteran misalnya. Seorang calon dokter jantung yang ingin meneliti tentang penyakit jantung tentu harus mengetahui lebih jauh tentang seluk beluk jantung manusia. Ia harus faham bagaimana meneliti jantung, bagaimana organ-organnya, apa saja alat-alat yang digunakan, dan tentu saja ada istilah-istilah khusus yang biasa digunakan dalam meneliti jantung yang harus dimengerti oleh calon dokter tersebut. Kesemua ini tentu dipelajari dengan menggunakan metode khusus yang berkaitan dengan pengetahuan tentang jantung.

Berbeda halnya dengan seorang mahasiswa jurnalistik yang ingin mengamati tentang Head Line sebuah koran lokal yang ada di kotanya. Jurnalistik tersmasuk ke dalam ilmu sosial. Nah, dalam hal ini tentu saja mahasiswa tersbebut menggunakan metode-metode yang sesuai dengan ilmu tersebut. Ia tentu harus sering mengamati head line surat kabar dalam beberapa hari. Ia harus mengetahui bagaimana bahasa jurnalistik yang baik dan benar, bagaiamana penulisan head line yang baik dalam sebuah surat kabar, mengetahui kode etik jurnalistik dengan baik, dan masih banyak lagi. Dari kedua bidang ilmu tersebut sudah dapat kita amati bahwa masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda.

Di saat manusia memiliki pengetahuan, mereka dapat merangsang pola pikir mereka menjadi lebih kreatif dan kritis, tentunya mereka dapat membuat pembaruan (inovasi) yang dapat membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik. Namun, perlu diingat, tidak semua pengetahuan merupakan ilmu. Hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan ilmu pengetahuan. Dengan adanya sistematika tersebut akan jelas tergambar garis besar ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

Daftar Pustaka
Qasirm C.A, Ilmu Pengetahuan dan Metodenya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta : 1995

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Pers, Jakrata : 2006

Suprayogo, Imam & Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, Remaja Rosdakarya. Bandung : 2003

Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Rajawali Pers, Jakarta : 2009 

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Akal & Hati Sejak Thalas sampai Capra Ed. Revisi, Remaja Rosda Karya, Bandung : 2005

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Kasih Seorang Ibu


by. Novia Faradila

Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Begitulah sebait lagu yang ditujukan kepada sang ibu, wanita yang mengabdikan hidupnya untuk anak dan keluarga. Walau bergelut dengan kesibukan sehari-hari, ibu tidak pernah lupa untuk melimpahkan kasih sayangnya. Seperti halnya Agusniati dan Nurfatimah, pekerjaan seberat apapun tak dapat menandingi pengabdiannya kepada anak dan keluarga mereka.

Bergelut dengan panasnya minyak goreng tak membuat Agusniati menyerah. Wanita kelahiran Medan, 17 Agustus 41 tahun silam ini setiap harinya menjual berbagai macam gorengan di Pasar Selasa, jalan HR Soebrantas, Panam. Profesinya sebagai pedagang goreng telah ia geluti sejak tahun 2005 silam. Berbekal sebuah gerobak dorong, kompor, dan sebuah kuali berukuran besar, wanita yang memiliki dua anak ini mulai menjajakan gorengannya dari pukul dua siang hingga jam sepuluh atau sebelas malam.

Wanita yang akrab disapa Upik ini mengabiskan hampir seluruh hari-harinnya untuk menjual goreng. ‘’Dari pagi jam enam saya ke pasar. Habis dari pasar saya goreng tahu dan mempersiapkan segala kperluan untuk jualan. Siang kira-kira jam setengah dua baru jualan sampai jam sepulu malam’’, papar Upik.

Istirahat pada pukul dua belas malam merupakan hal biasa bagi Upik karena kesibukannya dalam berjualan. Khusus di hari Selasa, Upik bangun jam tiga pagi untuk mempersiapakan segala keperluan untuk berjualan di pagi harinya. ‘’Kalau hari selalsa saya bangun jam tiga. Hari Selasa kan pasarnya, jadi saya jualan goreng pagi-pagi dan selesai pada sore hari.

Saat ditanyakan alasanya dalam menjual goreng, Upik menjelaskan bahwa berjualan goreng merupakan caranya untuk mengisi kekosongan. ‘’Dulu ada orang yang menjual gerobaknya, lalu saya beli, dan saya mencoba untuk menjual goreng dengan gerobak itu’’, ungkapnya. Selain itu, suami Upik yang dulunya berprofesi sebagai pembuat dan pedagang boneka tidak mampu lagi untuk memenuhi permintaan pasar, karena pembuatan boneka tersebut membutukan banyak tenaga. Di saat6 itulah suami Upik tidak lagi berjualan boneka dan membantunya untuk berjualn goreng. Disinilah berdagang goreng merupakan mata pencarian utama bagi Upik dan keluarga.

Uniknya dari Upik, saat para pedagang lainnya menjual goreng dengan harga seribu rupiah, Upik masih tetap bertahan dengan harga lima ratus rupiah. Menurutnya, kalau aia menjual dengan harga murah, maka banyak orang yang akan tertarik. ‘’kalau saya jual lima ratus, biar untung tipis tapi banyak laku, jadinya kan luamyan juga penghasialn saya. Kalau dijual mahal, nanti untungnya juga bakalan segitu’’, kata Upik

Jiwa dagang upik yang telah ia bawa sejak kecil tidak membuatnya canggung dalam berjualan. Upik mengaku ia berjualan sejak kecil untuk membantu keluarganya. ‘’Dari kecil saya memang sudah terbiasa berjualan. Pergi sekolah saja saya sambil jualan. Waktu itu orang tua saya membuat rempeyek kacang, jadi saya yang membantu mereka untuk menjualnya sambil sekolah’’, jelas Upik.

Saat ditanyakan kesulitannya dalam menjual goreng, upik menjelaskanbawa tidak ada kesulitan yang berarti baginya. Namun, ada beberapa saat ketika ia harus menghadapi buruknya cuaca, atau rusaknya kompor untuk menggoreng. ‘’Sejauh ini tidak ada yang menyulitkan, namun kadang ada juga hal-hal kendala seperti hujan, atau kompor rusak. Beberapa hari yang lalu kompor saya rusak, jam lima saya baru bisa menggoreng’’.
kesabaran Upik diuji saat hujan mengguyur lapak dagangannya

Di taun 1987 Upik yang dulunya bercita-cita menjadi guru pernah mencoba untuk masuk dalam penerimaan guru di kampungnya, namun saying ia tidak lulus. hal tersebut lantas tidak membuat Upik patah arang. Jiwa dagang seorang Upik kembali membuatnya terjun dalam berdagang. Satu hal yang sangat dipegang oleh ibu dua anak ini. Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Walau saat ini begitu banyak bermunculan para pedagang goreng, Upik tidak takut merasa tersaingi. ‘’Undang-undang jualan kan ada. Mau jual murah atau mahal kan terserah kita. Rezeki kita kan masing-masing, jadi kalau rezeki kita ada pasti ada saja yang datang’’, katanya.

Dalam berjualan bagi Upik pun arus memiliki kesabaran yang ekstra. Setiap hari ia bertemu dengan orang-orang berbeda yang memiliki karakter yang berbeda pula. Di sinila Upik arus bisa melayani mereka. ‘’Kita harus sabar, kadang ada saja pembeli yang aneh-aneh, tapi kita arus tetap sabar, kalau kita emosi nanti pelanggan bisa lari’’, katan Upik.

Upik merasakan perekonomian keluarganya jauh berubah setelah ia berjualan oreng. Ia sangat bersyukur karena dengan berjualan goreng ia dapat memenui kebutuan keluarganya. ‘’dengan berjualan goreng ini jauh lebih besar membantu kehidupan keluarga. Karena satu-satunya pendapat keluarga kan dengan berjualan goreng’’, tuturnya.

Untuk saat ini Upik belum ada rencana untuk beralih profesi. Namun jika suatu saat ada pekerjaan yang lebih baik, mengapa tidak bagi Upik untuk tidak beralih. Namun, Upik tak pernah berhenti berharap. Ia mengarapkan penjualan gorengnya saat ini dapat lebih meningkat dan maju. ‘’Harapan saya semoga penjualan saya lebih meningkat dan lebih maju. Kalau penjualan meningkat tentu kebutuan keluarga saya juga bisa saya penuhi’’, harap Upik.

Lain halnya dengan Agusniati, Nurfatimah, wanita kelahiran Pekanbaru, 30 september 1968 ini mengisi waktu luangnya untuk mengajar anak-anak di sala satu Sekola Luar Biasa (SLB). Pat, begitu wanita ini akrab disapa, mengaku bahwa sebelumnya ia tidak memiliki niat untuk mengajar di sekolah luar biasa, namun karena ada kesempatan untuk menerima pengajar di SLB, ia pun memberanikan diri untuk mendaftar dan akirnya diterima. ‘’Dulu saya tidak ada niat untuk mengajar di SLB, tapi karena ada kesempatan dari pemerintah karena kebetulan ada penerimaan gutu untuk mengajar di sekolah luar biasa, ya saya coba dan alhamdulillah saya diterima’’, ungkap wanita yang menamatkan kuliah di Fakultas Tarbiah, IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Disinggung mengenai pengalaman mengajarnya, Pat mengaku belum pernah memiliki pengalaman mengajar. Pat yang memiliki lima orang anak dahulunya hanya sebagai ibu rumah tangga saja.hal ini karena Pat memiliki lima orang anak yang harus ia besarkan. Namun, setelah anak-anaknya tumbuh besar, Pat memberanikan diri untuk terjun ke dunia pendidikan..

Terjun untuk mengajar anak-anak yang tidak seberuntung anak normal tentunya memiliki trik khusus tersendiri. Apalagi bagi Pat yang baru pertama kali mengajar. ‘’Pertamanya saya sangat deg-degan, mungkin hampir sama deg-degannya dengan mahasiswa yang mau ujian skripsi. Saya sempat berfikir, ‘bisa ngga ya, apa nanti mereka melawan ngga ya sama saya’. Lalu saya melihat teman-teman yang telah terbiasa mengajar anak-anak itu. Ada yang membujuk dengan permen, ada yang memegang kayu kalau anak-anak itu suka lari-lari kesana-kemari, ya saya tiru juga seperti itu, dan alhamdulillah saya dapat menyesuaikan diri’’, tutur Pat panjang lebar.

Tak dapat di pungkiri baawa dalam mengurus anak-anak SLB itu sulit. Tentunya dalam mengurusnya anak-anak SLB ini berbeda dengan anak-anak normal lainnya, baik dalam hal kebiasaan, maupun cara belajarnya, dalam segala hal. Mereka memiliki tingka laku yang aneh. Namun bagi Pat, mengajar di SLB banginya cukup mengasyikkan.

Tak ada kesulitan yang berarti bagi Pat dalam mengajar di SLB, namun kejenuhan kadang datang memhampirinya. ‘’Kesulitan tidak ada, hanya sedikit jenuh saja. Hal ini karena kadang anak-anak SLB itu jarang mengalami perubaan yang cepat. Kita harus mengajarkan yang itu-itu saja, jadi jenuh juga. Contohnya saja kalau lagi bosan waktu materi matematika, sudah saya ajarkan sedemikian rupa tetapi anak-anak tidak nangkap juga, ya saya bawa mereka bernyanyi, kadang kami goyang-goyang di dalam kelas’’, kekehnya.

Pat yang kesehariannya disibukkan untuk mengajar anak-anak yang kurang beruntung dalam hal fisik dan mental ternyata tidak lalai dalam mengurus keluarga yang sangat ia cintai. Baginya, telaten membagi waktu adalah kunci utamanya. ‘’kita harus pandai-pandai bagi waktu. Yang terpenting bagi saya adala bangun pagi. Saya bangun setiap pagi, setelah sholat subuh saya beres-beres rumah, masak, dan bersih-bersih. Kalau urusan rumah telah selesai, bawaan di sekolah juga bakalan tenang. Tapi kalau di rumah saja tidak beres, bawaan di sekolah pun jadi tidak mood.

Pat mengaku bahwa anak-anaknya juga tidak kesulitan dalam menjalani aktifitas mereka masing-masing walau Pat sendiri cukup sibuk. ‘’Walau saya cukup sibuk, tetapi dari anak-anak saya sendiri tidak ada masalah, mungkin karena anak saya banyak, dan saya mengajarkan disiplin dari kecil kepada mereka, mereka sudah terbiasa melakukan tugas-tugas mereka sendiri. Kalau saya sibuk pagi-pagi beres rumah, mereka juga sibuk mengurus persiapan mereka untuk sekolah’’, kata Pat.

Telaten mengurus keuangan
Keungan adalah salah satu factor penting dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Berbicara mengenai dana, Pat mengaku bawa cukup kesulitan dalam memikirkan keuangan. ‘’Kalau dana tentu kesulitan sekali karena anak saya banyak banyak. Pengasilan guru honor kan tidak seberapa. Tapi alamdulillah bisa tercukupi walau tidask berlebihan’’, tutur Pat.

‘’Sebenarnya kalau dipikir-pikir memang bisa pusing kita, apalagi sekarang beras mahal, minyak mahal, cabe apa lagi. Tapi kita kembali lagi kepada agama, yakin ajalah bahwa di dalam hidup ini rezeki itu pasti ada. Yakin saja Tuhan akan memberi, nanti pasti ada saja rezeki yang datang’’, tambanya kemudian.

Begitu juga dengan Upik. Cabe yang beberapa waktu lalu menanjak naik membuatnya kewalahan dalam menjual gorengnya. Sempat beberapa kali Upik tidak menyediakan cabe untuk goreng-gorengnya. ‘’Untuk bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat goreng saya biasanya beli dalam jumlah banyak, jadi harganya bisa sedikit lebih murah. Tapi, untuk cabe kemarin-kemarin saya sempat tidak menyediakan cabe, karena harga cabe mahal sekali’’, tandasnya.

Dalam memenui kebutuhan anaknya, Upik tidak terlalu memusingkannya karena anak pertamanya telah bekerja dan anak keduanya yang masih duduk di kelas dua SLTP di asuh oleh kedua orang tua Upik di kampung. Namun, Upik tetap mengirimkan uang apabila anaknya membutuhkan uang tersebut. ‘’Alhamdullillah anak saya yang pertama sudah bekerja, kalau yang kedua dia sama neneknya di kampung, jadi saya mengirimkannya uang kalau dia membutuhkannya, kadang=kadang kalau dia lagi liburan, saya mengirimkannya sekitar lima ratus ribu ruipiah.

Harapan sang ibu

Setiap ibu pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Tak terkecuali bagi Pat dan Agusniati. Bagi Pat, ia mengarapkan anak-anaknya dapat tumbuh menjadi anak-anak yang baik. ‘’Saya berharap semoga anak-anak saya sukses dalam pendidikan, memiliki kepribadian, dan yang terpenting memiliki akhlak yang sesuai dengan ajaran Allah SWT’’, harapnya.

Dalam al pendidikan contohnya, Pat mengharapkan anak-aanaknya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, dan jika bisa arus lebih dari dirinya. ‘’Saya mengharapakan anak-anak saya suatu saat dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Kalau bisa lebih dari saya. Saya kan S1, kalau bisa mereka S2, kata Pat.

Sama halnya dengan Upik. Ibu yang memiliki dua orang anak ini mengarapkan kedua anaknya dapat mandiri. Walau saat ini Agusniati lebih memfokuskan kepada anak perempuannya yang sedang bersekolah, ia tetap berharap bawa suatu saat anaknya dapat menjadi orang sukses. ‘’Yang saya pikirkan sekrang anak saya yang nomor dua, saya mengharap agar dia dapat terus melanjutkan sekolahnya. Kalau yang pertama alhamdulillah dia telah bekerja, jadi tidak terlalu pusing memikirkannya. Hanya saja saat ini dia kan bekerja dengan orang, saya mengharapkan suatu saat dia dapat berdiri sendiri,membuka usaha sendiri’’, harap Agusniati.

Hanya memberi, tak harap kembali, begitulah kuatnya pengorbanan seorang ibu. Bagi mereka, kebahagian anak adalah hal yang paling utama. Tak ada kasih yang abadi selain kasih sayang seorang ibu***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sang Pahlawan Di hari Pahlawan


by. Novia Faradila

Seuntai ucapan terima kasih atau megahnya sebuah tropi belum tentu cukup untuk menghargai jasa mereka. Rusdani (45) dan Oktofitria (29) meluangkan waktu mereka untuk memberikan bekal ilmu kepada anak-anak bangsa dengan segala kemampuan yang mereka miliki

Ruangan kecil dengan murid sekitar 30 orang tak membuat Rusdani patah arang. Wanita itu tak bosan-bosannya memberikan bekal ilmu agama kepada anak-anak yang berada di sekitar rumahnya. Sejak 2007 silam ia membuka tempat pengajian bagi anak-anak yang ingin menambah pengetahuan mereka tentang Islam. Semenjak  itu, setiap waktu luangnya  kecuali Jum’at, diberikannya untuk anak-anak tersebut.
Rusdani mengaku bahwa menularkan ilmu itu penting, biarpun ilmu itu sedikit, tetapi harus dibagi-bagi, ‘’biarpun sebaris ayat, ilmu itu harus diberikan. Dari pada anak-anak itu ke warnet, lebih baik mereka melakukan kegiatan yang bermanfaat, yakni belajar mengaji’’, ujarnya.
Berbagai pengetahuan tentang agama diajarkan Rusdani, seperti membaca iqra, membaca alquran, belajar sholat, belajar azan, menceritakan tentang sejarah Iislam, dan ilmu lain yang berhubungan dengan Islam. Ruangan yang kecil dengan murid yang banyak membuat Rusdani harus memutar otak untuk membagi jadwalnya. Dengan keterbatasan itu Rusdani memiliki harapan untuk membuat perpustakaan.
. ‘’Mudah-mudahan kami bertambah rezeki, insyaallah akan kami kembangkan lagi supaya anak-anak lebih leluasa dalam belajar. Dan saya ingin membuat perpustakaan mini agar anak-anak bertambah ilmunya tidak hanya melalui sekolah, tapi melalui membaca juga,’’ harap Rusdani.
 Satu lagi sosok pahlawan tanpa jasa masa kini, Oktafitria, rasa empati mendorongnya untuk mengabdi pada salah satu Sekolah Luar Biasa. Kekurangan tenaga pengajar di sekolah tersebut menjadi satu alasan baginya untuk mengajar. ‘’Sekolah ini bediri awal tahun 2007. Pada saat itu guru yang mengajar kurang, padahal anak-anak banyak, jadi saya coba masukkan lamaran dan saya diterima’’, terangnya.
Berkeluh kesah sedikit mengenai pekerjaannya, Fitria mengaku bahwa dalam menghadapi anak-anak itu dituntut kesabaran dan ketelatenan. ‘’yang susah ngajarnya itu anak-anak tuna rungu dan autis, kalau yang mudah diajar anak-anak tuna netra, karena mereka ini hanya matanya saja yang tidak bisa melihat, tapi kalau kemampuan berfikir, mereka juga sama dengan anak-anak normal lainnya,’’ paparnya.
‘’Kalau anak autis itu banyak macamnya, ada yang diam, ada yang hiperaktif. Dulu pernah ada anak autis, tapi tidak bertahan lama, mungkin karena orang tua mereka ingin cepat, padahal anak autis ini harus sabar mengajarnya, kalau ngga sabar orang tua dan guru agak lama prosese perubahan mereka,’’ imbuhnya.
Dengan kemampuan yang terbatas, Fitria melatih anak-anak wuna wicara untuk dapat mengeluarkan suarannya. Jijik tidak lagi dirasakannya ketika melihat air liurnya anak-anak muridnya, bahkan terkadang ia juga harus membersihkan kotoran meraka. Seperti itulah perjuangannya setiap hari dalam memberikan pengajaran.
 ‘’Mereka kami ajarkan cara menyisir rambut, berbedak, mandi, dan kalau mereka bisa melakukan hal itu berarti mereka telah sukses proses belajarnya. Proses belajar itu tidak hanya membaca, menulis, behitung, tapi juga bina diri. anak-anak yang lambat belajar kebanyakan mereka malas, kadang tidak datang seminggu, sebulan, atau bahkan satu tahun ada yang tidak datang.baru mereka hadir lagi. Kami tetap terima, karena mereka tidak bisa dipaksakan, istilah belajarnya bina diri’’, tuturnya.
Keterbatasan anak-anak itu tidak  menjadi masalah berarti di matanya ketika melihat keunikan mereka. Raut wajah  kasihan bercampur geli  terpancar ketika ia bercerita tentang keunikan anak-anak muridnya. Selain harus mendidik anak-anak, Fitria juga harus mampu menerima keterbatasan dari orang tua anak murid.
Uang sekolah hanya berjumlah Rp 80 ribu, namun masih banyak orang tua yang tidak membayar uang sekolah, bahkan ada yang dari awal tidak membayar. Itu semua tidak mematahkan semangatnya dalam mengajar. Dengan tulus hati, Fitria mengatakan ‘’Ya tidak apa-apalah, dari pada sekolah ini tidak ada murid, nanti tutup pula sekolah ini, jadi kami terima saja’’, tutur Fitira. Sebagai sekolah swasta perhatian pemerintah seperti beasiswa, dana BOS, menjadi harapan mereka untuk menghidupkan sekolah tersebut. 
Fitira berharap anak-anak muridnya bisa diterima di lingkungan mereka dan berjanji akan setia mengabdi di sekolah tersebut.  “Siapapun tidak ada yang menginginkan keadaan seperti ini. Saya sempat berfikir, andaikan saya ada di posisi mereka, atau saya memiliki anak-anak seperti mereka. Kalau saya pindah, nanti siapa lagi yang mengajarkan mereka’’, Oktafitria mengakhiri.
Pahlawan, yang sering dibangga-banggakan oleh masyarakat bukan hanya mereka yang mengangkat senjata, bukan juga mereka yang berkutat dengan peperangan, namun juga bagi mereka yang mencerdaskan anak-anak bangsa.***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS